Taubat Menurut Imam Al-Ghazali

by Wardani Putra on 09:39 PM, 04-Feb-12

Category: Artikel Islami

Taubat versi Imam Al-Ghazali r.a

Firman Allah Swt. dalam surat al-Nurayat 31 yang berarti: "Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah..." Dan juga hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Muslim dari Ibn 'Umar: "Dari Ibn 'Umar berkata: Rasulullah Saw. bersabda: "Hai manusia! Bertaubatlah kamu kepada Allah dan minta ampunlah kepada-Nya. Karena sesungguhnya aku sendiri biasa bertaubat kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali.".

Menurut Imam al-Ghazali melakukan perbuatan taubat adalah kembali dari jalan yang jauh menuju jalan yang dekat. Namun demikian, taubat itu memiliki pilar, prinsip dasar dan kesempurnaan. Prinsip dasarnya adalah iman. Yang berarti, terpancarnya cahaya ma'rifat pada kalbu sehingga dosa-dosa yang ada di dalamnya merupakan racun yang membinasakan. Dari sana bara rasa takut (khauf) dan penyesalan (nadam), kemudian dari bara inilah memancar sikap waspada dan sikap memperbaiki kekeliruan dan berupaya meninggalkan segala macam dosa yang telah diperbuat pada masa yang lalu dan memperbaikinya dengan semaksimal mungkin. Dengan demikian taubat dapat digapai.

Jika esensi taubat telah diketahui, maka sangat jelas bahwa taubat itu merupakan kewajiban setiap individu yang wajib dilakukan dalam kondisi apapun. Karena itulah Allah Swt. berfirman yang artinya: "Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah ...." (Q.S. Al-Nur: 31). Di sini Allah mengarahkan khitab-Nya kepada semua pihak secara menyeluruh.

Taubat itu wajib karena muatan maknanya adalah mengetahui bahwa dosa-dosa bisa dihancurkan, serta darinya motivasi yang kuat untuk meninggalkannya. Ini merupakan salah satu komponen keimanan, yakni mengenal faktor-faktor di atas.

Imam al-Ghazali mengemukakan bahwa taubat itu wajib bagi setiap manusia. Karena manusia itu terdiri dari beberapa sifat, yakni: kebinatangan, kebuasan, kesetanan, dan sifat-sifat ketuhanan.

Dari unsur-unsur kebinatangan lahir sifat rakus, nafsu birahi dan durhaka.

Dari unsur kebuasan lahir sifat-sifat marah, dengki, permusuhan dan rasa benci.

Dari unsur kesetanan lahir sifat-sifat tipu daya dan pengkhianatan.

Dan dari unsur ketuhanan lahir sifat sombong, senang dipuja dan cinta kekuasaan.

Prinsip akhlak tersebut adalah keempat perilaku di atas. Sifat-sifat itu telah mendarah daging dalam diri manusia dan sulit untuk dipisahkan. Yang dapat dilakukan hanyalah upaya menyelamatkan diri dari kegelapannya dengan cahaya yang dapat diperoleh dari akal pikiran dan syariat.

Pertama kali unsur yang diciptakan dalam sifat manusia adalah unsur kebinatangan, karena itu pada masa bayi sifat rakus, tamak dan birahi menguasainya.

Lalu unsur kebuasan, yang menguasainya melalui sifat bermusuhan dan saling berkompetisi menguasainya.

Kemudian diciptakan unsur setaniah yang menguasai dirinya dengan sifat tipu daya dan rekayasa. Unsur kebuasan dan kebinatangan ini menggiring manusia untuk mempergunakan kecerdikannya dalam menyiasati terlaksananya hawa nafsu dan terwujudnya sifat amarah.

Setelah unsur-unsur tersebut, lahirnya unsur ketuhanan (rububiyah) yang menimbulkan sifat sombong, cinta martabat dan tahta.

Kemudian diciptakan akal pikiran, yang mencerahkan cahaya dan cahaya itu adalah pasukan Allah dan pasukan malaikat. Sementara sifat-sifat negatif di atas adalah balatentara setan. Pasukan akal menjadi sempurna ketika usia seseorang mencapai empat puluh tahun, dan awalnya tampak pada usia baligh. Sedangkan seluruh balatentara setan telah bercokol di dalam hati sebelum berusia baligh.

Hati dikuasai oleh balatentara tersebut dan dijinakkan oleh nafsu,
selanjutnya la menyebar luas dalam nafsu birahi (syahwat) menuruti gerak nafsu, sampai cahaya akal pikiran itu masuk. Maka terjadilah perang antara nafsu dan akal pikiran dalam konflik hati. Apabila pasukan akal dan cahaya iman tidak mampu mengalahkan balatentara setan, maka balatentara setan tersebut tetap bercokol sebagaimana semula, berarti kerajaan hati telah menyerah kepada setan.

Perang antara hawa nafsu dan akal pikiran merupakan kelaziman dalam fitrah manusia, sebab naluri seorang anak itu tidak akan meluas jika naluri sang bapak tidak meluas pula.

Kisah Adam as. itu dituturkan, agar menjadi pelajaran dan perhatian, bahwa hal itu telah menjadi kepastian atas dirinya. Tentu juga menjadi kepastian atas seluruh anak cucunya dalam ketetapan azali yang tidak dapat diubah lagi.

Jadi, tidak seorang pun yang tidak membutuhkan taubat. Bahwa taubat itu wajib dilakukan setiap saat, karena tingkah laku manusia, tidak lepas dari dosa, baik organ tubuhnya atau pada kalbunya. la juga tidak lepas dari moral dan perilaku tercela, suatu hal yang harus dijauhi dan dibersihkan dari hati. Perilaku tercela itu menjauhkan diri dari Allah dan upaya untuk menyingkirkan merupakan taubat itu sendiri, karena hal tersebut merupakan tindakan meninggalkan jalan yang jauh (al-Bu'd) kembali menuju jalan yang dekat (al-Qurb) kepada-Nya.

Semuanya merupakan taubat. Hanya saja taubat orang awam itu dari dosa-dosa lahiriah. Sedangkan taubat orang-orang shaleh adalah taubat dari perilaku-perilaku batin yang tercela, taubat orang-orang takwa adalah taubat dari posisi-posisi keragu-raguan, taubat orang-orang yang cinta kepada Allah Swt. (muhibbin) adalah taubat dari kelalaian dzikir; dan taubat orang-orang arif (al-Arifin) adalah taubat dari berhenti pada suatu maqam, padahal di depannya masih terdapat maqam-maqam lagi. Maqam-maqam kedekatan kepada Allah tidaklah berujung, maka taubat seorang arif tidak juga berujung pangkal, tidak berbatas akhir. Taubat yang telah terpenuhi syarat-syaratnya pasti diterima.

Seseorang tidak perlu khawatir, Jika dia mengerti tentang makna penerimaan taubat. Makna penerimaan taubat adalah kesiapan hati untuk menerima cahaya-cahaya ma'rifat dalam dirinya. Hati bagaikan cermin yang pencerahannya terhalangi oleh kotoran-kotoran hawa nafsu dan cinta nafsu. Setiap dosa merupakan bintik hitam kalbu, sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada kalbu. Karena itulah, kebaikan-kebaikan dapat membersihkan dan mencerahkan jiwa.

Imam al-Ghazali mengumpamakan taubat bagaikan sabun bagi pakaian. Sabun itu pasti dapat menghilangkan kotoran jika digunakan sebagaimana mestinya. Orang yang meragukan diterima-tidaknya taubatnya, berarti belum yakin atau belum memenuhi syarat-syarat taubat secara utuh. Hal itu sama dengan orang yang meminum obat sakit perut, tetapi dia tidak yakin hal itu akan menyembuhkan sakitnya, karena dia tidak tahu tentang syarat-syarat penggunaan obat itu secara utuh. Sebaliknya bila ia mengetahui hal itu, pastilah tergambar kesembuhan, pasti menerima syarat orang yang menolong. Namun pada saat-saat tertentu keragu-raguan ini tidaklah menghantuinya, bahwa taubat itu sendiri harus melalui jalan-jalan tertentu untuk dapat diterima.

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

New comments disabled for this post.